Raden Mas Soerjopranoto

Biografi

Nama : Raden Mas Soerjopranoto
Lahir : Yogyakarta, 11 Januari 1871
Meninggal : Cimahi, 15 Oktober 1959
Gelar : Pahlawan Kemerdekaan

De Stakings Koning (Si Raja Mogok)

Pada 20 Agustus 1920, Raden Mas Soerjopranoto serikat buruh pabrik gula dalam P.F.B (Personeel Pabriek Bond) untuk melakukan aksi mogok kerja. Di Selatan Yogyakarta tepatnya di pabrik gula Madu Kismo, aksi yang ia lakukan meluas kebeberapa wilayah Hindia Belanda, hingga mendapat perhatian dari koran De Express dalam laman beritanya berjudul "De Stakings Koning" si Raja Mogok.

Raden Mas Soerjopranoto memiliki nama kecil Iskandar, meski tidak setenar sang adik, Ki Hajar Dewantara. Akan tetapi perjuangannya, tidak kalah dengan sang adik. 

Ia memulai pendidikannya dengan sekolah di Europeesche Lagere School (ESL), lalu mengambil Klein Ambtenaren Cursus (Kursus Pegawai Rendah) setingkat dengan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan selanjutnya masuk ke Sekolah Pertanian di Buitenzong, Bogor.

Masuk Boedi Oetomo dan Sarekat Islam

Saat berada di Bogor, Soerjapranoto bertemu dengan para tokoh pergerakan. Pada tahun 1908, ia pernah berembuk dengan para pelajar STOVIA di Batavia untuk membuat perhimpunan, tetapi gagal. Akan tetapi langkahnya tidak berhenti begitu saja. Saat ia memutuskan keluar dari dinas pertanian kolonial di Temanggung. Ia segera bergabung dengan Boedi Oetomo, sebagai sekretaris cabang Yogyakarta. Soerjapranoto semakin bersemangat. Pada tahun 1911, Soerjapranoto bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi orang penting kedua dalam partai. Ia juga terlibat dalam gerakan buruh milik SI.

Pada 12 Februari 1912, Soerjapranoto terlibat dalam pendirian asuransi jiwa Bumi Putera yang diperuntukan bagi kaum pribumi. Untuk membantu ekonomi kaum pribumi termasuk mendirikan sekolah rakyat pribumi, Soerjapranoto menggagas Arbeids Leger atau barisan kerja yang ia gagas sendiri.

Karena kegigihannya melawan ketidakadilan kolonial, membuat Soerjapranoto dipenjara hingga tiga kali, pertama di penjara Malang pada tahun 1923 selama tiga bulan, kedua di Semarang pada tahun 1926 selama enam bulan, ketiga di Sukamiskin, Bandung pada tahun 1933 selama 16 bulan.

Meski sering keluar masuk penjara, Soerjapranoto tidak berhenti untuk melakukan aksi mogok.

Memasuki usianya yang senja, Soerjapranoto menjadi guru di Taman Siswa milik adiknya, Ki Hajar Dewantara.  Hingga pada 15 Oktober 1959, tengah malam ia meninggal dunia di usia 88 tahun.